Sabtu, 14 November 2009
Fenomena banyaknya HOTspot
---
Memang ada banyak sekali alasan untuk suatu pihak memasang hotspot pada lokal area bisnisnya. Sebut saja kampus, karena institusi pendidikan ini mempunyai tujuan paling ‘mulia’ dalam pemasangan hotspot. Tujuan utama suatu kampus dalam menyediakan layanan hotspot tentu saja untuk memperluas akses civitas akademikanya terhadap informasi global melalui Internet, disamping mungkin juga mengembangkan komunitas e-learning yang mereka miliki. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga terselip aspek bisnis dalam motivasinya. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sejauh mana ketepatan layanan ini mencapai sasarannya? Benarkah dalam sebuah kampus, era Internet kabel sudah harus digantikan oleh hotspot. Ataukah hanya sekedar sebagai strategi bisnis dalam persaingan dunia pendidikan yang kian ketat?
Seperti yang kita tahu, sejak banyaknya kampus menyediakan layanan hotspot, memang kampus tersebut berhasil menjadi 'rumah kedua' bagi sebagian mahasiswa. Namun sebenarnya untuk alasan apakah mereka betah berlama-lama tinggal di kampus dengan laptop atau PDA-nya, mungkin harus dikaji lebih dalam. Yang jelas tidak sepenuhnya motivasi mereka untuk 'tinggal di kampus' terkait dengan tugas kampus yang harus dikerjakannya. Banyak diantaranya yang memanfaatkannya sekedar karena 'gratis'. Karena seperti yang diketahui bersama, biaya komunikasi di Indonesia, termasuk untuk koneksi Internet, masih relatif mahal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Itulah mengapa para mahasiswa ini lebih memilih 'gratis' di kampus, daripada 'bayar' di luar. Tentu saja semua itu sangat rasional.
Pastinya sebuah kampus sudah mempertimbangkan kemungkinan seperti tersebut di atas, sebelum mereka memutuskan untuk memasang hotspot. Jika sudah dapat menduga, mengapa juga mereka tetap memasangnya? Tak lain adalah karena pertimbangan aspek bisnis, karena seperti yang kita tahu, dunia pendidikan pun saat ini merupakan lahan bisnis yang potensial. Untuk dapat bersaing menjadi sebuah perguruan tinggi papan atas, tentunya tak semata kualitas pendidikan yang harus diperhatikan. Aspek fasilitas kampus merupakan salah satu faktor penentu layak tidaknya sebuah perguruan tinggi disebut 'bergengsi'. Bayangkan jika sebuah perguruan tinggi ternama sekelas UGM atau UI tidak mempunyai hotspot. Apa kata dunia? Itulah mengapa saat ini banyak kampus berlomba memperbaiki infrastrukturnya, termasuk infrastruktur IT-nya.
Lalu bagaimana dengan pemasangan hotspot pada suatu pusat keramaian? Seperti yang banyak kita lihat saat ini, banyak ruang publik yang menyediakan fasilitas hotspot. Untuk yang satu ini, alasannya sangat mudah ditebak, tak lain dan tak bukan adalah aspek bisnis semata. Ya, sebuah ruang publik yang menyediakan hotspot pastilah akan menarik bagi para surfer untuk mendatanginya, dan para surfer ini biasanya berasal dari ekonomi menengah ke atas. Ini merupakan suatu nilai tambah bagi proses marketing suatu pusat keramaian. Entah itu hotspot yang bersifat free hingga hotspot yang berbayar sekalipun kenyataannya tetap merupakan hal yang menarik, apalagi untuk kalangan muda di kota-kota besar, yang didominasi oleh pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah. Tentu saja mereka merupakan target market yang potensial. Hitung saja sudah berapa pusat perbelanjaan maupun hiburan di sekitar kita yang memasang fasilitas ini, mulai dari Mall hingga kafe-kafe, semua berlomba memperlengkapi diri dengan fasilitas ini. Tak lain hanyalah untuk menarik pengunjung sebanyak mungkin untuk memperlancar bisnis mereka masing-masing.
Jadi sebenarnya hal terpenting dari fenomena maraknya pemasangan hotspot saat ini adalah bukan untuk apa mereka memasangnya, namun bagaimana kita memanfaatkannya. Orang yang memakai layanan tersebut hanya untuk sekedar mengetahui gossip artis dan film terkini tentunya tidak akan mendapat manfaat yang sama dengan orang yang memakainya untuk bekerja melihat harga saham di pasaran terkait dengan berita terbaru kebijakan pemerintah. Begitu juga dengan mahasiswa, walaupun sama-sama mendapat akses gratis di kampus, tergantung dengan bagaimana mereka akan memanfaatkannya.
Kamis, 12 November 2009
hotel_california
On a dark desert highway, cool wind in my hair
Warm smell of colitas, rising up through the air
Up ahead in the distance, I saw a shimmering light
My head grew heavy and my sight grew dim
I had to stop for the night
There she stood in the doorway;
I heard the mission bell
And I was thinking to myself,
�this could be heaven or this could be hell�
Then she lit up a candle and she showed me the way
There were voices down the corridor,
I thought I heard them say...
Welcome to the hotel california
Such a lovely place
Such a lovely face
Plenty of room at the hotel california
Any time of year, you can find it here
Her mind is tiffany-twisted, she got the mercedes bends
She got a lot of pretty, pretty boys, that she calls friends
How they dance in the courtyard, sweet summer sweat.
Some dance to remember, some dance to forget
So I called up the captain,
�please bring me my wine�
He said, �we haven�t had that spirit here since nineteen sixty nine�
And still those voices are calling from far away,
Wake you up in the middle of the night
Just to hear them say...
Welcome to the hotel california
Such a lovely place
Such a lovely face
They livin� it up at the hotel california
What a nice surprise, bring your alibis
Mirrors on the ceiling,
The pink champagne on ice
And she said �we are all just prisoners here, of our own device�
And in the master�s chambers,
They gathered for the feast
The stab it with their steely knives,
But they just can�t kill the beast
Last thing I remember, I was
Running for the door
I had to find the passage back
To the place I was before
�relax,� said the night man,
We are programmed to receive.
You can checkout any time you like,
But you can never leave!
Sabtu, 31 Oktober 2009
desain kaos
Design Kaos Ilmuphotoshop
Ada ide dari temen-temen ke email saya… supaya membuat kaos ilmuphotoshop.. dan saya coba untuk design kaos tersebut..
Saya minta pendapat dari temen-temen tentang designnya.. kalo ada ide lain, silahkan di tulis di comment. kalo ada yang punya ide design silahkan kirim ke email saya aja.. sigit[at]ilmuphotoshop.com .. kalo design nya kepake pasti ada royalti nya.. hehehehe..
desain dari saya kayak gini :
Silahkan di tulis pendapatnya di comment ya.. makasih…
Artikel Design Kaos Ilmuphotoshop ini dipersembahkan oleh Tutorial Photoshop Gratis. Kunjungi Wallpaper, Font, Desktop Theme Gratis Pokoknya Serba Gratis. Baca Juga Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang, untuk mengetahui lebih jauh tentang Pandeglang sebagai Objek Wisata yang patut diperhitungkan karena keindahannya.
Jumat, 23 Oktober 2009
kaum muda jogja

Boulevard UGM hingga Depan Vredeburg, Atmosfer Kaum Muda Jogja
Mengunjungi Yogyakarta tentu takkan lengkap bila tak menjamahi ruang-ruang publik yang selama bertahun-tahun dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan menjalin keakraban. Di tempat itu, anda bisa menikmati beragam aktivitas yang digelar warga kota, menikmati kesenian jalanan yang terdapat hingga menyantap beragam hidangan khas.
Salah satu tempat yang menarik dikunjungi adalah Boulevard Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terletak di bagian terdepan universitas tersebut. Selama puluhan tahun, tempat ini telah dijadikan ruang menggelar kegiatan anak muda, kesenian dan olah raga. Dari pagi hingga malam, tempat ini senantiasa berdenyut namun dengan tawaran yang berbeda. Begitu pula setiap harinya, mulai Senin hingga Minggu.
Saat petang adalah waktu yang paling tepat untuk mengunjunginya. Biasanya, banyak anak muda yang menggunakan tempat ini untuk menggelar kegiatan breakdance hingga skate. Komunitas bikers BMX dan komunitas berbagai jenis motor pun sering menggunakan tempat ini untuk berkumpul. Sambil menonton kegiatan mereka, anda bisa menikmati beragam jajanan yang ditawarkan.
Anda bisa berekreasi sambil membugarkan raga di tempat ini. Biasanya, setiap Minggu pagi Boulevard UGM dimanfaatkan untuk jogging, bersepeda santai dan bermacam olahraga lainnya. Usai rekreasi kebugaran itu, anda bisa menikmati hidangan menarik yang dijajakan, seperti Bubur Ayam, Nasi Liwet Solo, Lontong Opor dan beragam minuman.
Ruang publik lain yang cukup menarik untuk menikmati suasana sore adalah kawasan depan Benteng Vredeburg. Anda bisa melihat kegiatan para musisi jalanan yang biasa duduk di bangku-bangku yang terdapat di sana. Di waktu-waktu tertentu, anda juga bisa menggelar pagelaran seni yang dipentaskan di hall Monumen Serangan 1 Maret, persis di depan bangku-bangku di kawasan itu.
Santapan sate kere yang dijajakan wanita-wanita Madura pun pantas untuk dicoba. Dengan Rp 2000,00 saja, anda bisa menikmati hangatnya sate ayam dan lontong yang disajikan dalam pincuk (piring-piringan yang dibuat dari daun pisang). Bila ingin membeli souvenir, anda bisa berjalan sedikit ke utara untuk menemukan pedagang kaki lima yang menjajakan kaos, gelang, kalung dan souvenir lainnya.
Dari kawasan itu pula, anda bisa melihat dua bangunan bersejarah, selain Benteng Vredeburg sendiri. Bila menatap ke depan, anda bisa melihat Gedung Agung yang sempat digunakan sebagai istana presiden saat ibukota dipindahkan sementara ke Yogyakarta pada tahun 1949. Sedangkan di sebelah kanan kawasan itu terdapat bangunan tua jaman Belanda yang kini dimanfaatkan sebagai kantor pos.
Nuansa serupa bisa dijumpai bila berjalan ke timur dari kawasan Benteng Vredeburg, tepatnya di wilayah Shopping. Di sana, anda bisa duduk santai menikmati suasana malam yang dihiasi lampu-lampu kota. Sementara, dari siang hingga sorenya, anda bisa menjajaki suasana pasar buku Shpping yang telah lama dikenal kelengkapannya. Di saat-saat tertentu, sebuah galeri seni yang terdapat tak jauh dari situ menjadi tempat yang tepat untuk menikmati karya seniman Yogyakarta.
Minggu, 18 Oktober 2009
Minggu, 04 Oktober 2009
green cleaner
'Green Clean:' Researchers Determining Natural Ways To Clean Contaminated Soil
ScienceDaily (Sep. 24, 2009) — Researchers at North Carolina State University are working to demonstrate that trees can be used to degrade or capture fuels that leak into soil and ground water. Through a process called phytoremediation – literally a “green” technology – plants and trees remove pollutants from the environment or render them harmless.
See also:
Through a partnership with state and federal government agencies, the military and industry, Dr. Elizabeth Nichols, environmental technology professor in NC State’s Department of Forestry and Environmental Resources, and her team are using phytoremediation to clean up a contaminated site in Elizabeth City, N.C.
Phytoremediation uses plants to absorb heavy metals from the soil into their roots. The process is an attractive alternative to the standard clean-up methods currently used, which are very expensive and energy intensive. At appropriate sites, phytoremediation can be a cost-effective and sustainable technology, Nichols says.
The Coast Guard site was planted with a mixture of fast-growing trees such as hybrid poplars and willows to prevent residual fuel waste from entering the Pasquotank River by ground water discharge. About 3,000 trees were planted on the five-acre site, which stored aircraft fuel for the Coast Guard base from 1942 until 1991. Fuels had been released into the soil and ground water over time. Efforts to recover easily extractable fuel using a free product recovery system – also called “oil skimmers” – had stalled so other remedial options were considered before choosing phytoremediation.
“We knew that tree growth would be difficult on portions of the site due to the levels of fuels in the soil and ground water, but, overall, we thought the trees could keep this contamination from moving toward the river by slowing ground water flow,” Nichols said. “Trees need water for photosynthesis so they absorb water from the ground; that process can slow the amount of ground water flowing toward the river.”
In the process of absorbing water from the ground, trees can take up fuel contaminants. Some contaminants will be degraded by trees during this process while others will be released into the air by tree leaves and stems. “We wanted to demonstrate that the trees would first slow the movement of fuel toward the river,” Nichols said.
Trees can also increase the abundance and diversity of soil microorganisms around their roots. Some of these soil microorganisms will degrade the fuel still remaining in the ground. “This can be a slower process, but we also want to show that trees will remove the remaining fuel footprint over time,” Nichols continued.
Initially, 500 hybrid poplar and willow trees were planted in 2006. Another 2,500 trees were planted in 2007. “Our initial results are very encouraging, and amounts of fuel in the ground have decreased much faster than anticipated,” Nichols said, “but there is still much to learn about how trees can impact residual, weathered fuels over time. There are two areas on the site where trees do not do well, but, overall, tree growth and survival are impressive.” The Coast Guard has recognized the value of phytoremediation from this study, and has established two additional phytoremediation systems at different locations on base.
The project received a $240,584 grant from the U.S. Environmental Protection Agency and the N.C. Department of Environment and Natural Resources’s (NCDENR) Division of Water Quality 319 program, and an additional $15,000 grant from British Petroleum North America to establish the demonstration site. Nichols worked with Brad Atkinson (NCDENR), Dr. James Landmeyer (U.S. Geological Survey), J.P. Messier (U.S. Coast Guard), and Rachel Cook, a graduate student at NC State, to design and implement the phyto-demonstration site. NC State was recently awarded an additional EPA/NCDENR 319 grant to continue monitoring the site for tree growth and fuel reduction, tree toxicity to fuels, changes to ground water levels and flow, and how fuel contamination is actually removed by trees.



